Desainer Grafis Indonesia di Kancah Dunia
Diam-diam, negeri ini memiliki banyak desainer grafis muda yang karyanya dipakai dan diakui dunia. Mereka tak cuma mengandalkan bakat, tapi umumnya juga berpendidikan tinggi dan memulai karier awal di biro-biro desain ternama.
Pernah nonton film layar lebar 300, Hulk, atau Cat Woman? Atau, jika
Anda penggemar film serial TV mungkin pernah menyaksikan Ugly Betty, The
Triangle, atau Desperate Housewives yang ditayangkan Star World dan
HBO? Jika Anda perhatikan, ternyata ada satu persamaan dari film-film
top tersebut, yakni sang desainer grafis di balik film:
Yolanda Santosa.
Yolanda Santosa.
Yolanda memang salah satu talenta muda asal Indonesia yang sukses
sebagai desainer di bidang branding & motion graphic di Amerika
Serikat. Melalui bendera usahanya Ferroconcrete, Yolanda sukses
mendesain sejumlah film box office. Kepiawaiannya mendesain film title,
main title atau opening show, memberi kontribusi besar dalam mendongkrak
publikasi sebuah film.
Bahkan, melalui kontribusinya tersebut, sejumlah penghargaan
diraihnya. Selama tiga tahun berturut-turut, namanya dinominasikan untuk
meraih Emmy Award. Pada Emmy Nomination 2007, perempuan yang akrab
disapa Yo ini masuk dalam kategori Main Title Design untuk serial TV
favorit Ugly Betty. Sebelumnya, di kategori yang sama, pada 2006 ia
pernah dinominasikan berkat karyanya di serial TV The Triangle yang
diputar di The Sci Fi Channel dan pada 2005 lewat serial TV Desperate
Housewives. Selain dinominasikan dalam Emmy Award, Yo telah menyabet
penghargaan Graphic Design USA 2006 dan Webby Award Honoree 2006.
Sederet klien besar pernah ditangani Yo, antara lain: stasiun TV ABC,
CNN Paramount Pictures, Pinkberry, Sci Fi Channel, Showtime, Sony,
Universal Pictures, Walt Disney Pictures, Warner Bros Pictures, dan 20th
Century Fox.
Menurut Yolanda, proyek pertama yang ia garap sebagai desainer grafis
adalah main title design film Desperate Housewives. Ketika itu ia
bekerja sebagai desainer dan Art Director di yU+co. Memang, setelah
menyelesaikan kuliah di Art Center College of Design di Pasadena, AS,
pada 2000, Yo langsung bergabung dengan studio motion graphic ini. Rumah
produksi yang menggarap serial Desperate Housewives mengundangnya untuk
mengikuti tender pembuatan main title film serial ini. Marc Cherry,
kreator film tersebut menginginkan ada penggambaran yang komunikatif
mengenai beberapa istri yang sedang patah hati, murung, tapi terkait
dengan sejarah. “Tantangan bagi saya adalah bagaimana menyambungkan dan
mengaitkan beragam aliran dan gaya visual sehingga menjadi sesuatu yang
kohesif. Solusinya, dengan membuat gaya pop-up book,” ujar Yo mengenang.
“Kami memenangi tender itu dengan mengalahkan lima perusahaan lainnya.
Saat itulah saya merasa benar-benar menjadi local lead designer dan art
director,” ia menceritakan dengan nada bangga.
Setelah itu, Yo memutuskan mengembangkan bendera usaha sendiri. Pada
2006 dibentuklah Ferroconcrete yang berbasis di Los Angeles. Kini,
Ferroconcrete kian berkibar sebagai desainer branding & motion
graphic di AS. Tentunya, rekening banknya makin dipenuhi dolar.
Bagaimana tidak, untuk pengerjaan satu desain title film saja biaya
proyeknya minimum US$ 250 ribu. Apa sih kiat suksesnya? “Saya hanya
meyakini kemampuan diri sendiri, dan bisa menawarkan yang terbaik untuk
klien,” ujarnya diplomatis.
Seniman grafis lain asal Indonesia yang sukses berkiprah di industri film Hollywood adalah
Kalim Winata. Pria kelahiran Jakarta tahun 1965 ini sekarang adalah Computer-Generated Images Artist di ImageMovers Digital – salah satu anak perusahaan Disney. Tugas Kalim di perusahaan desain ini adalah memadupadankan pakaian, aksesori, serta jenis dan warna rambut karakter animasi.
Kalim Winata. Pria kelahiran Jakarta tahun 1965 ini sekarang adalah Computer-Generated Images Artist di ImageMovers Digital – salah satu anak perusahaan Disney. Tugas Kalim di perusahaan desain ini adalah memadupadankan pakaian, aksesori, serta jenis dan warna rambut karakter animasi.
Saat ini proyek yang dikerjakan Kalim adalah pembuatan film animasi
Christmas Carol yang disadur dari novel Charles Dicken yang diterbitkan
tahun 1843. Christmas Carol berkisah tentang seorang pria kesepian yang
menemukan kasih sayang dan cinta dalam waktu satu malam. Film animasi
yang rencananya tayang pada November 2009 ini dibintangi Jim Carey dan
disutradari oleh pemenang award, Robert Zemeckis – yang pernah
menyutradarai Beowulf, Polar Express, Castaway, What Lies Beneath,
Forrest Gump, dan Back to the Future (I,II,III).
Dalam Christmas Carol, Kalim bertugas menyimulasi rambut untuk
karakter utama dalam film itu, Scrooge, yang diperankan oleh Jim Carey.
“Secara visual, pekerjaan ini sangat menantang karena latar belakang
skenario mengambil tema pada abad ke-19 di London. Hal ini memengaruhi
gaya berpakaian dan penampilan. Tentunya karakter-karakter tersebut
harus otentik mencerminkan keadaan riil pada zaman itu,” ujar Master of
Fine Arts (MFA) dari Academy of Art University, AS ini bersemangat.
Kalim memulai kariernya di bidang animasi ketika menjadi seorang
Render Wrangler di Pacific Data Images (PDI) Dreamworks, perusahaan yang
memproduksi film animasi Shrek 1-3.
Selain di PDI Dreamworks, ia pernah pula menjadi Asisten Manajer
Program di Pacific Power, Portland, Sony Pictures. Ia direkut menjadi
CGI Artist pada film animasi Polar Express yang diproduksi Sony
Pictures, setelah ia merampungkan proyek film animasi Shrek 2. “Membuat
film animasi memerlukan keahlian detail. Contohnya, untuk membuat satu
scene saja, diperlukan 24 sampai 30 frame per detik. Sebab, animasi
merupakan gambar bergerak,” ia memaparkan. “Nah, tugas seorang CGI
Artist adalah ‘menghidupkan’ karakter dari ratusan gambar di atas kertas
menjadi sebuah jalan cerita,” papar Kalim dari ujung telepon di San
Francisco, AS.
Menurut Kalim, kiat untuk bisa menembus studio besar sebenarnya cukup
sederhana dan mudah. Para desainer grafis cukup menampilkan demo riil
(portofolio) karyanya di sejumlah website berisi iklan lowongan
pekerjaan di industri animasi. Mereka yang melamar biasanya harus
melampirkan demo riilnya. “Jika studio tersebut tertarik, mereka akan
memanggil pelamar untuk wawancara,” ucapnya.
“Saya sangat menikmati profesi sebagai seorang CGI Artist, karena
pekerjaan itu merupakan kolaborasi antara teknik desain konvensional
dengan penggunaan teknologi modern. Sangat visual, dinamis tapi juga
memakan banyak waktu. Saya menyukai art. Tidak ada hal lainnya yang kini
menjadi tujuan hidup saya,” tutur Kalim, yang saat ini menjadi
Co-Author Red Darmon dalam pembuatan buku Made in India terbitan
Chronicle Books – sebelumnya, ia juga menjadi co-author untuk buku Made
in China dan Made in Japan.
Desainer grafis Indonesia lainnya yang sukses di mancanegara adalah Melissa Sunjaya.
Wanita kelahiran Jakarta 1974 ini pernah berkiprah di beberapa studio desain grafis terkemuka di Kalifornia, seperti CMg Design Inc., Ph.D, dan Siegel&Gale Los Angeles.
Wanita kelahiran Jakarta 1974 ini pernah berkiprah di beberapa studio desain grafis terkemuka di Kalifornia, seperti CMg Design Inc., Ph.D, dan Siegel&Gale Los Angeles.
Di CMg Design Inc. Melissa menangani proyek desain dari beberapa
klien, antara lain: Sanwa Bank California, Metropolitan Water District
of Southern California, Decrane Aircraft Holding, Micro Therapeutics
Inc., Kidspace Museum, Mercury General Insurance, dan Southern Pacific
Bank. Tahun 1999, proyeknya untuk desain identitas korporat di CMg
menerima penghargaan Strathmore Graphics Gallery Award for Design and
Production Excellence. Proyek itu dipamerkan di The Strathmore Graphics
Gallery di New York, dan juga diterbitkan oleh Majalah Communication Art
dan How Design di AS.
Di agensi Ph.D, lulusan bidang art dari salah satu universitas di
Switzerland dan juga bidang desain dari sebuah universitas di Kalifornia
ini menangani berbagai proyek branding korporasi seperti Fox Twentieth
Century, 29 Palms, Gean Gardner Photography dan Mark Hanauer
Photography. Selain itu, Melissa menangani pula pengembangan logo
beberapa perusahaan, seperti Hauser Inc., Innovare.Com, dan Jehle
Batliner s.a.
Salah satu prestasi Melissa yang diacungi jempol Daniel Surya ketika
di tahun 1999 ia dan Dominic Symons mendirikan BlueLounge design yang
menerima proyek desain, pembuatan logo dan branding korporasi di AS.
Kliennya antara lain: ID Connect (Liechtenstein), Zoe Design Associates
(San Francisco/Singapura), dan Belle Marie Winery (AS). “Melissa adalah
salah satu desainer yang berhasil mendapat kepercayaan menangani
proyek-proyek besar di Amerika, dan itu tidak mudah,” ucap Daniel
memuji.
Nama desainer asal Tanah Air yang sukses di negeri orang adalah Henricus Kusbiantoro.
Pria kelahiran Bandung tahun 1973 inilah yang mendesain brand
expression The Global Campaign dari Bono U2 untuk AIDS di Afrika, yang
diluncurkan dalam World Economic Forum 2006, di Davos, Swiss.
Henricus memulai profesinya sebagai desainer grafis di LeBoYe Design
Studio, Jakarta, pada 1996. Lalu, ia hijrah ke New York City dan bekerja
di perusahaan desain legendaris di kota itu, Pushpin Studio – di bawah
Seymour Chwast and D.K. Holland. Kemudian, ia bergabung dengan
perusahaan desain identitas korporat kelas dunia Chermayeff and Geismar
Inc. Selanjutnya, bakat desain Henricus lebih berkembang di Wolff Olins
New York (konsultan merek kelas dunia berbasis di London). Karya
fenomenalnya di sini adalah merancang ulang semua sistem grafis dan
memperkenalkan merek baru General Electric secara global pada 2004.
Saat ini, pemegang gelar MFA bidang desain komunikasi dari Pratt
Institute, New York ini menjadi senior art director bidang branding dan
identitas korporat di kantor pusat Landor Associates, San Francisco.
Hasil karya Henricus telah dimuat di Laurence King Publisher 2007
(London), The New York Times, The Wall Street Journal, Time dan Fortune.
Ia juga telah memenangi penghargaan D&AD Awards London, Merit Award
dari New York’s Art Director Club untuk kategori branding design.
Seniman grafis Indonesia yang juga berkarya di New York adalah Lucia C. Dambies.
Bagi Lucia, New York City menjadi sebuah periode penting dalam perkembangan profesinya sebagai desainer grafis. Selain sempat bekerja paruh waktu di studio desain grafis legendaris Chermayeff & Geismar dan perusahaan branding Wolff Olins, di masa ini juga ia sempat melakukan riset tentang sejarah desain grafis Indonesia, yang kemudian diajukan sebagai topik tesisnya di Pratt Institute.
Bagi Lucia, New York City menjadi sebuah periode penting dalam perkembangan profesinya sebagai desainer grafis. Selain sempat bekerja paruh waktu di studio desain grafis legendaris Chermayeff & Geismar dan perusahaan branding Wolff Olins, di masa ini juga ia sempat melakukan riset tentang sejarah desain grafis Indonesia, yang kemudian diajukan sebagai topik tesisnya di Pratt Institute.
Saat ini, pemegang gelar master bidang desain komunikasi visual dari
Pratt Institute, New York ini bekerja sebagai Kepala Desainer di Wharton
Bradley Mack, perusahaan yang membidangi spesialis pemasaran Internet
di Newcastle Upon Tyne, Inggris.
New York juga menjadi lahan karier bagi Danton Sihombing.
Ia memulai kariernya sebagai desainer grafis profesional sejak tahun
1990. Bekerja untuk beberapa perusahaan desain dengan jabatan terakhir
Art Director di Allied Graphic Arts, New York. Danton berpartisipasi
dalam beberapa proyek prestisius seperti revitalisasi brand Marks &
Spencer, Nascar dan lainnya. Peraih gelar MFA bidang desain grafis dari
Savannah College of Art and Design, Georgia, AS ini mendapat anugerah
Outstanding Achievement in Graphic Design Award pada 1997.
Di luar nama-nama tersebut, tentu saja belum afdol jika tidak menyebut nama Wahyu Aditya.
Akhir Oktober 2007, bertempat di Apollo Theatre West End, London, Aditya dinobatkan sebagai International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. Ia menyisihkan peserta lain dari India, Cina, Brasil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria dan Libanon.
Akhir Oktober 2007, bertempat di Apollo Theatre West End, London, Aditya dinobatkan sebagai International Young Screen Entrepreneur of the Year 2007. Ia menyisihkan peserta lain dari India, Cina, Brasil, Polandia, Slovenia, Lithuania, Nigeria dan Libanon.
Dalam hal ini, konsep membangun industri animasi yang disodorkan
Aditya dinilai bagus karena mampu mengawinkan kreativitas, idealisme dan
bisnis di usia yang sangat muda (27 tahun). Bahkan, salah satu dewan
juri, Duncan Kenworthy (produser Four Weddings and Funeral, Nothing Hill
dan Love Actually) sempat menyatakan ketertarikannya untuk memodali
proyek Aditya ke depan.
Selain Aditya, ada talenta muda lainnya yang punya prestasi menarik, yakni desain di bidang komik. Namanya Christiawan Lie.
Pria kelahiran Bandung 5 September 1974 ini berhasil menembus industri
komik mainstream AS. Chris telah menghasilkan 40 komik yang
diterjemahkan ke berbagai bahasa dan 25 tokoh karakter komik. Chris
merupakan satu-satunya orang Indonesia yang tampil di ajang komik
terbesar di dunia San Diego Comic-Con, Juli 2006. Komik teranyarnya,
Return to Labyrinth, terjual habis hanya dalam dua hari di ajang itu.
Berbagai penghargaan telah dikoleksi pemegang gelar master bidang
komik dari Savanah College of Art and Design, Savannah, Georgia, AS ini,
antara lain: MTV Faces of the Millennium (2000), AXN-Asia Strip Contest
(2001 dan 2002), dan Singapore Comic Competition (2002). Selama
menjalani kuliah S-2, Chris sempat magang di Devil’s Due, penerbit yang
memegang lisensi komik GI Joe. Secara tak terduga, desainnya disukai
Hasbro – perusahaan mainan raksasa pemegang lisensi pusat GI Joe. Chris
menangani pembuatan desain action figure, ilustrasi cover DVD,
pengemasan, dan bentuk promosi lainnya yang berkaitan dengan komik itu.
Sekitar 25 action figure GI Joe Sigma 6 lahir dari tangannya. Selain
itu, Chris juga yang membuat desain mainan dan bentuk promosi lain di
Burger King dan beberapa restoran besar lainnya di AS.
Sejauh ini, komik karyanya yang sudah diterbitkan di AS adalah 6 buku
GI Joe Sigma 6, GI Joe Arashikage Showdown (GN/graphic novel), Return
to Labyrinth (GN) Volume 1, Josie & The Pussycats – short stories
(12 buku), Dungeon and Dragons: Eberron volume 1. Sekarang, sulung tiga
bersaudara ini sedang mengerjakan cerita pendek. Di proyek itu, Chris
berkolaborasi dengan John Rogers, penulis cerita Transformer: The Movie.
Ya, dunia desain memang tak terbatas. Di dunia yang amat luas inilah
para desainer muda bertalenta tinggi asal negeri ini bisa memuaskan
dahaga dan kecintaan pada hobi sekaligus kariernya.
——-
sumber : idesainesia.com
sumber : idesainesia.com

0 Komentar untuk "Designer Terbaik Indonesia"